Agama Samawi dan Agama Ardhi

Jauh sebelum tersiarnya agama Islam, yaitu menjelang pertengahan abad ke enam Masehi, dunia dikuasai oleh dua Negara besar yaitu Romawi di Barat dan Persia di timur. Bangsa-bangsa yang berada dalam kekuasaan kedua Negara tersebut pada umumnya mengalami kemerosotan moral, akhlak dan sosial. Saat itu dunia berada dalam kegelapan dengan merebaknya takhayul dan khurafat yang merusak kehidupan ruhaniyah dan keagamaan manusia pada umumnya. Penyebab utama kemerosotan agama, moral dan sosial , serta keguncangan dan penindasan terhadap bangsa-bangsa lain adalah kebudayaan yang berdasarkan nilai-nilai materialistik semata, tanpa adanya nilai moral yang mengarahkan kebudayaan tersebut ke jalan yang benar.

Sebelum Islam datang, bentuk dan sifat kekuasaan para penguasa di Jazirah Arab ada dua macam yaitu:

Pertama, raja-raja bermahkota tetapi tidak berdiri sendiri karena tunduk kepada kerajaan lain. Kedua, raja-raja yang tidak bermahkota, yaitu pemimpin kabilah yang memiliki kekuasaan penuh dan hak-hak istimewa seperti raja.

Agama bangsa Arab di Makkah sebelum Islam dapat dikelompokkan menjadi dua aliran:

a. Agama Samawi: Samawi artinya langit, maksudnya adalah agama yang didasarkan kepada wahyu Allah melalui para Nabi/Rasul-Nya, misalnya:

1. Agama Tauhid, dibawa oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, tersebar di Jazirah Arab dan sekitarnya. Mereka percaya hanya kepada Allah yang Maha Esa dan meyakini adanya hari kiamat.

2. Agama Yahudi, dianut oleh suku-suku Nadhir, Qainuqa’, dan Quraidhah. Agama Yahudi tersebar di Yaman, Yatsrib (Madinah), Taima’, Fadak, Khaibar, Wadil Qura dan Palestina.

3. Agama Nasrani (Masehi), yang mempunyai pengikut di Najran, Ghassan dan Yaman. Agama Masehi tersiar di Jazirah Arab melalui Siria, Mesir dan Habsyi.

b. Agama Ardhi: Ardhi artinya bumi, maksudnya adalah agama atau kepercayaan yang berasal dari hasil pemikiran manusia, misalnya:

1. Agama Majusi, yaitu agama yang berasal dari Persia. Penganutnya menyembah api dan mempercayai adanya dewa kebaikan dan kejahatan.

2. Penyembahan berhala, berhala-berhala yang ada di berbagai tempat di wilayah Arab dulunya berasal dari Haram Ka’bah, yang kemudian mereka muliakan, sementara Ka’bah tetap mempunyai kedudukan yang tinggi. Berhala-berhala yang terkenal sesembahan bangsa Arab Makkah adalah Hubal, Al Lata, Al ‘Uzza dan Manah (Manat).

3. Penyembahan Malaikat, mereka menganggap malaikat sebagai wakil dari Tuhan untuk mengabulkan segala permintaan manusia dan mencabut kembali suatu pemberian. Bahkan sebagian mereka menganggap malaikat itu anak-anak perempuan Allah.

4. Penyembahan Jin, Ruh dan Hantu, mereka percaya bahwa jin, ruh dan hantu mempunyai hubungan langsung dengan Malaikat dan Tuhan.

5. Penyembahan Alam, yaitu mnyembah matahari, bulan dan bintang karena mereka menganggap bahwa benda-benda tersebut diberi kekuasaan penuh oleh Tuhan untuk mengatur alam, sehingga sudah sepantasnya dihormati.

6. Kepercayaan terhadap waktu, yang disebut Ad-Dahr, yaitu golongan yang mempercayai bahwa segala sesuatu itu terjadi karena kehendak waktu.

7. Kepercayaan terhadap hewan, antara lain disebut Al-Bahirah, As-Saibah, Al-Washilah dan Al-Hamiah.

Masa sebelum datangnya agama Islam sering disebut zaman Jahiliyah atau zaman kebodohan, tetapi bukan berarti bahwa bangsa Arab pada masa itu bodoh dalam arti tidak memiliki pengetahuan dan kebudayaan, namun karena mereka jauh dari kebenaran. Mereka dianggap bodoh karena perilaku mereka yang tidak sesuai dengan norma atau aturan hukum yang benar, baik yang berhubungan dengan kehidupan beragama, pribadi maupun bidang sosial. Mereka hanya menuruti keinginan hawa nafsu dan kepentingan pribadi serta kelompoknya tanpa memperdulikan orang lain. Masyarakat jahiliyah tidak memiliki tatanan hokum yang menjadi aturan hidup bermasyarakat. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Pemerasan dan kekejian adalah tradisi yang biasa dalam masyarakat, sehingga pada masa itu kezaliman merajalela. Secara garis besar keadaan sosial masyarakat Makkah dapat dikatakan lemah, kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, khurafat tidak bias dilepaskan, dan manusia hidup layaknya hewan yang diperjul belikan dan kadang-kadang diperlakukan seperti benda mati. Setiap umat Islam mengetahui bahwa Muhammad SAW adalah Nabi penutup dan Rasul yang terakhir. Beliau diangkat sebagai Rasul Allah, tidak untuk disanjung-sanjung atau didewa-dewakan, tetapi untuk dicontoh akhlaknya. Sebagai uswatun hasanah, beliau wajib diteladani dan ditaati tuntunannya, baik dalam aspek aqidah, akhlak, ibadah, dan muammalah. Sesudah turunnya wahyu yang pertama, maka sekitar 2 tahun Nabi Muhammad tidak menerima wahyu lagi dari Allah SWT. Karena itu beliau merasa khawatir dan resah jangan-jangan wahyu itu terputus. Tetapi tidak lama kemudian pada suatu hari beliau menerima wahyu seperti yang tercantum dalam Q.S. Al Mudatsir: 1-7. Ayat-ayat tersebut pada intinya memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk segera memulai tisalah kenabian atau tugas dakwah yaitu menyampaikan wahyu Allah kepada seluruh manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s