RESONANCE

Derak ranting dan daun kering yang terinjak mengawali teror di malam itu. Kepekatan langit tumpah ruah ke bumi, menghitamkan langit yang tak lagi berhiaskan lampu-lampu jalan, taman, dan teras depan perumahan.Tak seorangpun berada di tengah lautan kelam itu untuk tenggelam dalam ketakutan tak berkesudah. Tak seekor hewan malam pun berkenan hadir untuk menjadi saksi kengerian yang terjadi. Ada telapak kaki asing yang kini menjejaki bumi. Dan suara lain menggantikan angin dan derit jangkrik.

MEREKA; para zombie sedang mencari mangsa.

Di sebuah rumah dua lantai yang dihuni tiga orang manusia yang masih tersisa. “Keluarga Pak Yamamoto sudah menjadi korban,” ujar seorang anak perempuan ketakutan selepas melongok ke jendela, melihat rumah besar di seberang yang berjarak tiga rumah dari kediamannya sudah tak menampakkan tanda-tanda kehidupan. “MEREKA menjadikannya cemilan kemarin malam, kecuali sopirnya, kulihat tadi sore sudah berganti majikan: pemimpin para zombie.”

“Sudahlah, Michiru. Kau tidak perlu membahasnya seperti sedang me-review sebuah film,” ujar kakaknya, Chika, sambil menenangkan adik kesayangannya itu. “Yah, kita juga tinggal menunggu giliran saja kan?” ketus Shito, kembaran Chika yang duduk di samping Michiru. “Jaga mulutmu!”, Chika mendelik. “Kalau begitu, untuk apa kita masih berada di sini kalau bukan menunggu giliran?” ujar Shito.

Shito benar. Sejak beberapa bulan lalu, negara dinyatakan tidak aman. Sebuah wabah virus tiba-tiba menyebar secara misterius; menyerang manusia di hampir seluruh belahan dunia dan mematikan mereka sementara, sebelum akhirnya bangkit kembali menjadi zombie. Dan semakin hari, virus zombie tersebut semakin meluas hingga ke pelosok kota. Zombie-zombie tersebut bereproduksi dengan cara menginfeksikan virus yang mereka miliki ketika aksi kanibalisme tak sempat mereka lakukan kepada manusia.

Ketiga bersaudara itu bahkan sudah mengetahui kabar buruk tersebut dari jauh-jauh hari. Namun seakan tak ada yang mereka lakukan dalam rangka evakuasi. Mereka tetap bertahan di rumah ini. Sama halnya dengan yang dilakukan keluarga Yamamoto, yang kemarin malam menjadi korban.

“Meninggalkan kota dalam situasi seperti ini tak semudah yang kaukira,” ucap Chika pada Shito. . “Pertumbuhan populasi MEREKA tak dapat diprediksi. Bisa kau bayangkan apa yang terjadi di jalanan ketika semua orang berpikiran sama. Dan tak ada jaminan kota mana yang masih aman dan bersih dari MEREKA.”

“Baiklah, aku cuma anak umur tujuh belas tahun yang bodoh dan sok tahu! Puas?” Shito menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Menarik napas dalam, lalu menghembuskannya. “Yah, mulai sekarang kita harus belajar pasrah seperti keluarga Pak Yamamoto,” ujar Shito.

“Apa maksudmu?” tanya Chika. “Kita tidak berani melarikan diri, alih-alih memiliki senjata untuk melawan mereka,” jawab Shito sambil bangkit, meraih lilin yang lain lalu membagi api dari lilin yang tengah menyala. “Mati segan, hidup pun susah!” ia beranjak meninggalkan adik-adiknya.

“Mau ke mana, kau?” Shito tak menjawab. Remang cahaya lilin menunjukkan tujuannya ke arah kamar tidurnya. Chika semakin kehabisan akal dan sabar menghadapi kakaknya. Entah siapa yang mestinya bisa lebih dewasa dalam menyikapi situasi genting ini. Ia paham, kakaknya sedang mengalami masa transisi setelah kematian kedua orang tua mereka. Namun, setidaknya Shito dapat mengerti kebimbangan yang tengah dihadapinya.

*****

Keesokan paginya, mereka masuk sekolah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Hari itu pelajaran berjalan seperti biasa. Upacara diadakan dan berlangsung seperti rencana. Ketika istirahat juga mereka masih berkumpul dengan teman masing-masing. Tak lama kemudian, terdengar suara gaduh dari kejauhan dan ternyata ada salah seorang murid yang berubah wujud menjadi zombie yang sangat menakutkan dari balik lorong sekolah. Awalnya dari satu orang, kemudian merambah ke yang lainnya sehingga banyak murid yang berubah menjadi zombie. Dan bahkan, MEREKA langsung membunuh makhluk-makhluk yang terlihat berbeda dengan diri MEREKA.

Chika dan Shito berlari mencari adik mereka, Michiru. Setelah bertemu, ketiga bersaudara itu berusaha lari sekencang-kencangnya agar dapat menjauhi MEREKA. Mereka terus berlari hingga keluar dari kompleks sekolah, menuju rumah mereka. Di tengah-tengah kepanikan itu, Shito sibuk mencari kunci rumah mereka yang sedari pagi ia kantongi. Setelah menemukannya, ia memasukkan kunci itu ke dalam lubangnya dan memutar kenop pintu. Tetapi, apa yang terjadi? Kenop pintu itu tiba-tiba macet dan membuat mereka semua bertambah panik.

Tiba-tiba, “Lihat, MEREKA menuju ke sini!” jerit Michiru. Chika pun membantu Shito, berusaha membuka pintu rumah mereka. Akhirnya, mereka dapat masuk ke dalam rumah dan dapat terlindung dari para zombie yang sangat menakutkan itu untuk sementara. Setelah di dalam rumah, mereka memasang gerendel dan mengunci pintu. Agar tidak mudah didobrak, mereka mendorong sebuah sofa ke belakang pintu.

Mereka menghembuskan nafas lega. Namun, kelegaan itu rupanya tidak berlangsung lama. Para zombie itu berusaha masuk melalui atap rumah. “Kalian dengar itu? Sekarang, apa yang harus kita lakukan?” pekik Michiru. Chika dan Shito berusaha untuk tenang dan  memikirkan jalan terbaik yang dapat mereka lakukan untuk menyelamatkan diri.

“Ke sini!” teriak Shito. Chika dan Michiru pun berlari mengikuti Shito. Namun, Shito bukannya berlari menuju pintu belakang yang belum terganjal sofa sehingga memungkinkan mereka untuk melarikan diri, melainkan menuju kea rah gudang di bawah tangga. “Apa yang kau lakukan? Kita tidak akan selamat jika bersembunyi di gudang!” ujar Chika. “Kita tidak akan bersembunyi di dalam gudang,” ujar Shito sambil membuka pintu gudang. “Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Michiru.

Shito tidak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul penuh rahasia. Mereka pun masuk ke dalam gudang. Shito menyingkirkan kardus-kardus di gudang yang penuh debu itu. “Bantu aku, Chika!” pinta Shito. Dengan sigap, Chika membantu kembarannya yang lahir lima menit lebih dulu darinya itu. Setelah semua kardus disingkirkan, Shito membungkuk. Ia seperti sedang mencari-cari sesuatu. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Chika keheranan. “Ingat pintu menuju ruang bawah tanah yang kita temukan sepuluh tahun yang lalu?” Shito balik bertanya. Chika pun berusaha mengingat-ingat kenangan masa kecilnya saat mereka baru pindah ke rumah itu. “Ya, aku ingat,” ujar Chika. Tiba-tiba, Chika tersenyum girang. “Ya, kita bisa menggunakan jalan itu! Kau jenius Shito!” ujar Chika kembali setengah berteriak.

Ia mengerti maksud Shito. Mereka akan melarikan diri melalui lorong bawah tanah yang sepertinya sudah ada sejak lama, jauh sebelum mereka tinggal di rumah itu. Ia yakin, lorong itu mengarah ke suatu tempat yang aman. Sepertinya, dulu lorong itu dibangun dengan maksud yang sama dengan yang akan mereka lakukan saat ini. Melarikan diri! Shito menemukan celah yang di tengahnya terdapat sebuah kayu memanjang yang berfungsi untuk mengangkat pintu menuju lorong bawah tanah. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari lantai dua. “MEREKA berhasil masuk!” pekik Michiru.

Dengan sigap, Shito mengangkat pintu menuju lorong bawah tanah. “Masuk!” perintah Shito. Mereka pun masuk ke lorong bawah tanah yang gelap tersebut. Shito segera mengganjal pintu. “Gelap sekali di sini,” ujar Michiru. “Tenang, aku membawa senter,” ujar Shito sambil mengeluarkan sebuah senter kecil dari saku celananya. “Hei, jangan bilang kalau kau selalu membawa senter itu kemanapun kau pergi! Aku tahu kau phobia kegelapan, tapi tidak pernah menyangka kau setakut itu!” ujar Chika setengah tertawa. “Sudahalah! Aku tidak mau bertengkar denganmu di saat genting seperti ini! Ayo jalan!” ketus Shito.

Mereka pun berjalan menyusuri lorong itu. Setelah hampir satu jam berjalan, mereka melihat sebuah pintu di ujung lorong. “Itu dia jalan keluarnya!” Michiru menjerit kegirangan. Mereka membuka pintu itu dengan antusias. Ternyata, lorong itu menuju ke sebuah gang sempit di tengah kota.

*****

Setelah keluar dari lorong itu, mereka berlari menuju jalan raya berharap menemukan orang-orang yang dapat menolong mereka. Namun, kenyataan yang mereka temui sangat berbeda. Kota telah porak-poranda. Kaca pecah di sana sini. Darah berceceran di mana-mana. Bahkan, ada sebuah toko buku yang terbakar dan apinya semakin besar. Kota sunyi senyap, seakan tidak ada tanda-tanda kehidupan.

“Apa yang telah MEREKA lakukan pada kota kita?” isak Michiru menahan tangis. Chika pun memeluk adiknya, berusaha menenangkannya. “Sepertinya populasi MEREKA berkembang dengan pesat. Aku tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini,” gumam Shito.

Mereka berjalan menyusuri kota. Tidak satupun manusia mereka jumpai. Kota benar-benar kosong seakan ditinggalkan oleh penduduknya setelah badai besar. Michiru terisak sambil berkata “Kenapa hal sekejam ini harus terjadi?” Chika dan Shito hanya terdiam, saling berpandangan. Mereka juga sedih dan bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Sedetik kemudian, terdengar geraman mengerikan dari belakang. Shito, Chika, dan Michiru menoleh perlahan-lahan ke belakang denagn perasaan was-was. Ternyata, apa yang mereka takutkan berada di belakang mereka. Dua zombie berdiri di belakang mereka dengan tatapan lapar.

Mata MEREKA berwarna merah darah seakan menggambarkan kehausan mereka akan darah manusia. Kulit mereka tecabik-cabik, penuh goresan dan luka yang pasti MEREKA dapatkan saat bertransformasi dari manusia menjadi zombie. Kulit mereka pucat dan dingin.

“LARI!!!” teriak Shito kepada adik-adiknya. Mereka pun berlari menghindar dari kedua zombie itu. Kedua zombie itu dapat menyusul dengan cepat. Shito, Chika, dan Michiru menambah kecepatan lari mereka. Saat jarak mereka semakin jauh dengan kedua zombie itu, tiba-tiba Shito terjatuh. Ia tersandung sebuah kayu yang tampaknya berasal dari bingkai jendela rumah di kiri jalan. Kayu itu cukup besar. “Aduh!” Shito menjerit kesakitan.

“Shito, kau tidak apa-apa? Bisa berdiri?” tanya Chika cemas. “Aku tidak apa-apa. Tapi sepertinya aku tidak bisa berdiri.” Jawab Shito meringis menahan sakit. “ Kak, kau kehilangan banyak darah!” pekik Michiru setelah memperhatikan kaki kakaknya yang berdarah akibat terkena pecahan kaca saat terjatuh. Semakin lama, darah dari luka Shito mengalir semakin deras. Mencium bau darah, kedua zombie itu semakin bersemangat mengejar mereka. MEREKA semakin mendekat.

“Tinggalkan aku! Selamatkan diri kalian!” perintah Shito kepada adik-adiknya. Kedua zombie itu semakin mendekat. “Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian!” bantah Michiru. “Kalian harus melakukannya! Cepat!” perintah Shito lagi.

Michiru tidak dapat menahan air matanya lagi. Meledaklah tangisnya. “Tidak! Kami akan tetap bersamamu!” tangis Michiru. Jarak kedua zombie itu tinggal beberapa meter lagi dari mereka. “CEPAT!!!” jerit Shito. “Chika, bawa Michiru! Selamatkan diri kalian!”

Chika pun menarik tangan Michiru. “Maafkan aku, Shito. Maafkan aku,” pinta Chika. Air matanya pun mengalir.

Chika pun berlari menjauh bersama Michiru. Mereka terus berlari hingga terdengar suara jeritan dari belakang. “AAARRGGHH!!!!!” jerit Shito. Chika dan Michiru menoleh ke belakang. Mereka melihat kedua zombie itu menggigit leher Shito.

“TIDAAAKKK!!!!!!” jerit Michiru.

*****

BYUUURRRR!!!!!!

“Bangun, Pemalas!” Chika terkikik geli. Michiru terbangun, badannya basah kuyup. Chika baru saja menyiramnya dengan segayung air. Ia menatap Chika dengan kesal. “Woi, kok malah bengong? Cepat bangun! Sudah jam enam tahu! Kau mau terlambat ke sekolah?” Chika terbahak-bahak melihat wajah adiknya yang seperti tikus baru tercebur ke dalam selokan.

“Keluar dari kamarku!” jerit Michiru sambil mendorong Chika keluar dari kamarnya. Setelah berhasil mendorong Chika keluar dari kamarnya, ia mengunci pintu. Di luar ia mendengar Chika tertawa terbahak-bahak sambil menuruni tangga.

“Menyebalkan!” jerit Michiru. Tawa Chika semakin keras.

Michiru pun bergegas mandi. Ia bersyukur zombie-zombie itu ternyata hanya bagian dari mimpi buruknya. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia bergegas ke ruang makan. Di ruang makan, Shito telah mempersiapkan sarapan untuk mereka bertiga.

“Hmmm, sepertinya lezat! Aku sudah tidak sabar mencicipinya!” ujar Michiru mengagetkan Shito. “Kau sudah bangun rupanya,” Shito tersenyum. Michiru memeluk erat kakaknya. “Tahukah kau betapa leganya aku melihatmu berdiri di sini? Aku sangat menyayangimu, Kak!” ujar Michiru.

“Hei, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?” tanya Shito sambil melepaskan pelukan Michiru. Michiru tidak mau melepaskan pelukannya. “Aku tidak bias bernafas,” ujar Shito. “Ups, maaf!” Michiru melepaskan pelukannya. “Kau yakin tidak apa-apa?” tanya Shito lagi. “Aku tidak apa-apa,” jawab Michiru sambil tersenyum.

“Dia habis kerasukan, Shito! Hati-hati, nanti setannya pindah ke kamu!” celetuk Chika sambil menarik kursi lalu duduk. “Huh, terserahlah kau mau bilang apa!” ketus Michiru sambil duduk di kursi dengan sebal. Chika pun terkikik geli.

“Chika, bisa kau hentikan kejahilanmu itu untuk sementara? Kita sedang makan,” ujar Shito. “Baik, baik,” jawab Chika sambil tersenyum jahil. Mereka pun makan dengan tenang.

Michiru berangkat sekolah lebih dulu daripada kakak-kakaknya. Ia ingin menyendiri. Saat lewat di depan rumah Pak Yamamoto, ia baru ingat kalau keluarga Yamamoto baru saja pindah seminggu yang lalu. Sopir mereka tetap tinggal di rumah itu dan kini bekerja pada majikan barunya. Jadi, bukan karena keluarga Yamamoto dihabisi oleh zombie. Michiru juga ingat bahwa semalam mati lampu. Shito menjadi ketus karena ia phobia kegelapan, bukan karena zombie. Orang tua mereka juga tidak meninggal, tetapi sedang berada di luar kota.

Ia pun tersenyum lega karena itu semua hanya mimpi. Tiba-tiba,

“Hayo, melamun saja!” teriak Chika di telinga Michiru sambil menarik tas Michiru. Rupanya ia berhasil menyusul Michiru yang berangkat lebih dahulu. “Kyaaa!!!” jerit Michiru terkejut. “Hahahaha…….” Chika tertawa sambil berlari. “Awas ya!” teriak Michiru sambil berlari mengejar Chika.

Shito hanya tersenyum melihat tingkah kedua adiknya itu. Ia berharap semoga kebahagiaan ini tidak pernah terusik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s