Dari Medali Emas Olimpiade Menuju Hadiah Nobel

Keberlanjutan ekonomi China sekarang terkait erat dengan peralihan dari imitasi ke inovasi, dari manufaktur bagi merek ke menciptakan merek. China sedang mengambil langkah-langkah untuk menjadi “negara inovasi” dunia. Keunggulan kompetitif China yang dicapai dalam Olimpiade Beijing 2008 adalah gambaran awal apa yang akan terjadi dalam daya saing globalnya, ketika China berhasil meraih semua sasarannya di Olimpiade.

China berubah dari negara di ambang keruntuhan menjadi negara ekonomi terbesar ketiga di dunia. China juga bercita-cita untuk melipatgandakan PDB per kapita tahun 2000 pada tahun 2020 dan mencapai kemakmuran sederhana bagi seluruh rakyat, sesuai dengan apa yang disebut Michael Porter sebagai “tujuan akhir daya saing”. Perekonomian abad ke-21 akan berpihak pada negara yang memanfaatkan pasar global, dan mau merangkul aneka budaya dan menyerap keanekaragaman gagasan mereka ke dalam proses inovasi. Hal ini akan dipicu oleh perpaduan berbagai bidang teknis dan kreatif serta perkembangan penelitian, kreativitas, kesenian, dan pemikiran mutakhir. (Michael Porter, 2006)

Apakah China akan mencapai semua cita-citanya akan sangat tergantung pada perubahan struktur pendidikan otoriter yang berpusat pada ujian dan nilai tes. Sistem ini bukanlah sistem yang akan membentuk para peraih Nobel. Tujuan menjadi masyarakat yang inovatif tidak mungkin dicapai bila pola hierarkis dan otoriter tetap dipertahankan di sekolah dan tempat kerja. Dalam konteks yang lebih besar, hal ini berarti dibutuhkannya reformasi umum sistem pendidikan China, dan satu-satunya yang dapat mereformasi sistem ini dengan cepat adalah persaingan. Rakyat China harus mentransfer pengetahuan dan pengalaman mereka di bidang komersial ke pendidikan, tempat sekolah-sekolah harus bersaing dengan menawarkan kinerja yang semakin unggul. Sistem persaingan dapat memperbaiki sekolah-sekolah di negara mana pun.

Orang China memiliki prinsip untuk menyelamatkan muka (mianzi), reputasi mereka, status sosial mereka, dan citra mereka di mata orang lain, sehingga kesalahan dan kegagalan tidak cocok dengan konsep ini. Tantangan sebenarnya bagi setiap “inisiatif inovasi” adalah cara mengubah pola pikir yang menganggap kesalahan sebagai kehilangan muka. Hal ini disebabkan oleh pepatah China yang mengatakan “Semakin banyak yang Anda lakukan, semakin besar kemungkinan Anda membuat kesalahan”. Hal ini menyebabkan orang China berpikir bahwa semakin sedikit hal yang mereka lakukan, semakin sedikit kemungkinan mereka akan berbuat kesalahan. Hal ini tentu bukan merupakan formula untuk mengembangkan “masyarakat yang inovatif”.

Amerika memimpin dalam Hadiah Nobel, memiliki mayoritas perusahaan yang terdaftar di Fortune 500, dan menjadi negara yang inovatif, bukan karena orang Amerika adalah yang paling cerdas di dunia, tetapi karena masyarakat Amerika mengizinkan kesalahan, mendorong kreativitas, melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar, serta menyambut baik pengusaha gagal yang kembali ke arena. Hal inilah yang perlu dicontoh oleh China jika ingin menjadi negara yang inovatif.

Pemikiran hierarkis dan otoriter adalah kendala terbesar dalam mengubah China dari bengkel dunia menjadi negara inovatif terkemuka. China perlu mengubah pola pikir yang telah terbentuk ribuan tahun, dan perubahan ini harus berlangsung dalam satu atau dua generasi. Hal ini menjadi masalah universal di China dan “menghalangi kampanye untuk menggali potensi bangsa”. Sebuah editorial di China Daily mengatakan bahwa masyarakat China perlu mendapat suntikan rasa malu dan perlu merasa malu menerima pujian yang tidak layak diterima. Prinsip untuk mencemaskan pujian palsu dan bukannya mencemaskan kritikan ini sangat bertolak belakang dengan prinsip masyarakat China selama ini dan hal inilah yang sulit untuk diubah.

Banyak perusahaan China yang tidak akrab dengan strategi inovasi, meskipun beberapa perusahaan China telah menjadi teladannya, ssperti perusahaan Haier dan CEOnya, Zhang, yang dipuji-puji karena kemampuan manajemen dan komitmen diversifikasinya. Pendekatan top-down, yaitu pemerintah mendikte bagaimana BUMN harus berinvestasi dalam riset dan pengembangan, tidak mungkin mendukung sasaran menciptakan perusahaan yang inovatif. Sebaliknya, dana riset dan pengembangan yang lebih berbasis pasar harus diterapkan, termasuk pemberian insentif untuk investasi di sektor bisnis.

Sistem perbankan China lebih kurang bersifat monopoli. Bank-bank milik negara memberikan pinjaman kepada BUMN-BUMN besar yang merugi sehingga jumlah kredit bermasalah pun terakumulasi. China harus mengurangi pinjaman semacam itu dan lebih memenuhi kebutuhan pendanaan usaha-usaha kecil serta menengah swasta karena diperlukan modal untuk mendanai usaha-usaha baru yang menjadi sumber penting inovasi.

Upaya China menjadi masyarakat yang inovatif bercirikan tingkat dinamika dan pembangunan yang berbeda-beda, seperti yang terjadi di Beijing dan Shanghai. Pembentukan kawasan ilmu pengetahuan seperti Zhangjiang Hi-Tech Park di Pudong, dan inkubator teknologi, yang menyediakan ruang perkantoran murah bagi perusahaan dan saran strategis pada berbagai urusan seperti manajemen dan keuangan, akan turut memperbaiki ketimpangan tersebut. Sekali lagi, terwujudnya cita-cita China untuk menjadi negara inovatif akan bergantung pada kemauan China untuk melakukan perubahan-perubahan itu sendiri.

Tulisan ini merupakan resume Pilar 8 “China’s Megatrends”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s