Penyebab Invasi Vietnam ke Kamboja

Kamboja merupakan salah satu negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Sejak dahulu kala, Kamboja sering diperebutkan oleh berbagai kerajaan, termasuk Vietnam dan Thailand. Ada beberapa hal yang menyebabkan Kamboja sering menjadi ajang sengketa, di antaranya adalah tanahnya yang subur dan datar sehingga mudah dilalui, dan terletak di antara dua kekuatan besar yang bersaing, sehingga wajarlah jika wilayah Kamboja selalu “diamati dengan teliti” oleh para tetangganya.

Negara ini mendapatkan kemerdekaannya dari Perancis pada tanggal 19 November 1953, dengan Pangeran Sihanouk sebagai kepala negaranya. Pada masa awal pemerintahan Pangeran Sihanouk, politik luar negeri Kamboja terfokus pada mengamankan integritas wilayah dan kedaulatan negaranya, membuka hubungan politik dengan negara lain, mempertaankan keanggotaannya di PBB, dan mengupayakan bantuan asing untuk pembangunan negaranya. Namun, sejak awal kemerdekaannya, negara ini telah mengalami banyak masalah internal seperti munculnya ketegangan politik dan pergolakan menjelang pemilu.

Pada tahun 1970, Lon Nol (dengan bantuan AS) melancarkan kudeta untuk menjatuhkan pemerintahan pangeran Sihanouk dan merubah bentuk negara kerajaan menjadi republik, dan diberi nama Republik Khmer. Di bawah kekuasaan Lon Nol, Kamboja menjadi negara yang pro-Barat (AS). Tetapi pemerintahan Lon Nol tidak bertahan lama karena pada tahun 1975, pemerintahan Republik Khmer dijatuhkan oleh Democratic Kampuchea di bawah rezim Khmer Merah, dengan Pol Pot sebagai pimpinannya. Di bawah kepemimpinan Pol Pot inilah Kamboja menjadi negara komunis dan terisolir dari hubungan diplomatik. Pol Pot memutuskan hubungan diplomatik dengan negara-negara di kawasan regionalnya dan di belahan dunia lainnya, kecuali Cina, Vietnam, dan Swedia. PBB pun tidak mengakui adanya pemerintahan ini.

Pada Desember 1978, Vietnam mulai melakukan invasi ke Kamboja. Rezim Pol Pot pun resmi dijatuhkan pada saat Vietnam berhasil menduduki Phnom Penh pada tanggal 7 januari 1979. Invasi ini juga mendukung berdirinya pemerintahan boneka Republik Rakyat Kamboja yang dipimpin oleh Heng Samin. Invasi ini dilakukan oleh Vietnam sebagai reaksi atas kebijakan Pol Pot terhadap Vietnam: pertama, perlakuan rezim Pol Pot yang semena-mena terhadap keturunan Vietnam di Kamboja; kedua, tindakan Pol Pot menyerang wilayah Vietnam, baik dalam wilayah Kamboja Krom (wilayah Kamboja yang diperoleh Vietnam sebelum penjajahan Perancis), maupun ke wilayah Vietnam itu sendiri. Selain itu, adanya perpecahan antara dua kekuatan komunis besar dunia (Uni Soviet dan Cina) turut menjadi penyebab dari invasi ini, karena Vietnam mengambil kesempatan di saat pendukung terbesar Kamboja sedang “sibuk”. Tindakan Vietnam tersebut mendapat tentangan dari ASEAN yang menganggap invasi tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip-prinsip dasar hubungan antarnegara, yaitu prinsip non intervensi (non intervention/interference) dan prinsip penggunaan kekerasan bersenjata (non use of force). (Hilton Tarnama Putra & Eka An Aqimuddin. 2011)

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1988/07/30/NAS/mbm.19880730.NAS25282.id.html

http://regional.kompasiana.com/2010/12/29/kamboja-dalam-penguasaan-pol-pot/

Putra, Hilton Tarnama dan Eka An Aqimuddin, Mekanisme Penyelesaian Sengketa ASEAN: Lembaga dan Proses, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s